Pendahuluan
Artikel ini akan menyajikan contoh-contoh soal ulangan kimia kelas 11 semester 1 yang mencakup berbagai topik penting. Soal-soal ini dirancang untuk menguji pemahaman siswa terhadap konsep-konsep dasar stoikiometri, laju reaksi, kesetimbangan kimia, dan termokimia. Setiap bagian akan diawali dengan penjelasan singkat mengenai topik yang akan diujikan, diikuti dengan contoh soal beserta pembahasannya secara rinci. Tujuannya adalah untuk memberikan gambaran yang jelas mengenai jenis pertanyaan yang mungkin muncul dalam ulangan dan bagaimana cara menyelesaikannya secara efektif.
Bagian 1: Stoikiometri
Stoikiometri adalah studi tentang hubungan kuantitatif antara reaktan dan produk dalam reaksi kimia. Pemahaman stoikiometri sangat penting untuk memprediksi jumlah zat yang bereaksi dan dihasilkan dalam suatu reaksi. Topik ini meliputi konsep mol, massa molar, persamaan reaksi setara, pereaksi pembatas, dan rendemen.
Contoh Soal 1.1:

Sebanyak 5,6 gram besi (Fe) direaksikan dengan larutan asam klorida (HCl) menghasilkan besi(II) klorida (FeCl₂) dan gas hidrogen (H₂). Jika diketahui massa atom relatif (Ar) Fe = 56 g/mol dan Ar Cl = 35,5 g/mol, serta Ar H = 1 g/mol.
a. Tuliskan persamaan reaksi setara dari reaksi tersebut!
b. Berapakah jumlah mol FeCl₂ yang dihasilkan jika seluruh Fe bereaksi sempurna?
c. Berapakah volume gas H₂ yang dihasilkan pada kondisi STP (Standar Temperature and Pressure) jika 5,6 gram Fe bereaksi sempurna?
Pembahasan Soal 1.1:
a. Persamaan reaksi setara:
Reaksi antara besi (Fe) dengan asam klorida (HCl) menghasilkan besi(II) klorida (FeCl₂) dan gas hidrogen (H₂).
Fe(s) + HCl(aq) → FeCl₂(aq) + H₂(g)
Untuk menyetarakan persamaan reaksi ini, kita perlu memastikan jumlah atom setiap unsur sama di kedua sisi.
- Atom Fe: 1 di kiri, 1 di kanan (sudah setara).
- Atom Cl: 1 di kiri, 2 di kanan. Kita perlu mengalikan HCl dengan 2.
Fe(s) + 2HCl(aq) → FeCl₂(aq) + H₂(g) - Atom H: 2 di kiri, 2 di kanan (sudah setara).
Jadi, persamaan reaksi setara adalah:
Fe(s) + 2HCl(aq) → FeCl₂(aq) + H₂(g)
b. Jumlah mol FeCl₂ yang dihasilkan:
Pertama, kita perlu menghitung jumlah mol besi (Fe) yang bereaksi.
Massa Fe = 5,6 gram
Ar Fe = 56 g/mol
Jumlah mol Fe = massa / Ar = 5,6 g / 56 g/mol = 0,1 mol
Dari persamaan reaksi setara, perbandingan mol Fe dengan FeCl₂ adalah 1:1. Ini berarti jika 0,1 mol Fe bereaksi sempurna, maka akan dihasilkan 0,1 mol FeCl₂.
Jadi, jumlah mol FeCl₂ yang dihasilkan adalah 0,1 mol.
c. Volume gas H₂ yang dihasilkan pada kondisi STP:
Dari persamaan reaksi setara, perbandingan mol Fe dengan H₂ adalah 1:1. Ini berarti jika 0,1 mol Fe bereaksi sempurna, maka akan dihasilkan 0,1 mol H₂.
Jumlah mol H₂ = 0,1 mol
Pada kondisi STP, 1 mol gas ideal memiliki volume 22,4 liter.
Volume gas H₂ = jumlah mol H₂ × volume molar STP
Volume gas H₂ = 0,1 mol × 22,4 L/mol = 2,24 L
Contoh Soal 1.2:
Dalam reaksi antara magnesium (Mg) dengan asam sulfat (H₂SO₄) untuk menghasilkan magnesium sulfat (MgSO₄) dan gas hidrogen (H₂), jika diketahui 12 gram Mg direaksikan dengan 98 gram H₂SO₄. Diketahui Ar Mg = 24 g/mol, Ar S = 32 g/mol, Ar O = 16 g/mol, Ar H = 1 g/mol.
a. Tuliskan persamaan reaksi setara!
b. Hitunglah massa molar H₂SO₄!
c. Tentukan pereaksi pembatasnya!
d. Berapakah massa MgSO₄ yang dihasilkan?
Pembahasan Soal 1.2:
a. Persamaan reaksi setara:
Reaksi antara magnesium (Mg) dengan asam sulfat (H₂SO₄) menghasilkan magnesium sulfat (MgSO₄) dan gas hidrogen (H₂).
Mg(s) + H₂SO₄(aq) → MgSO₄(aq) + H₂(g)
- Atom Mg: 1 di kiri, 1 di kanan (setara).
- Atom S: 1 di kiri, 1 di kanan (setara).
- Atom O: 4 di kiri, 4 di kanan (setara).
- Atom H: 2 di kiri, 2 di kanan (setara).
Persamaan reaksi sudah setara:
Mg(s) + H₂SO₄(aq) → MgSO₄(aq) + H₂(g)
b. Massa molar H₂SO₄:
Massa molar (Mr) H₂SO₄ dihitung dari jumlah massa atom relatif (Ar) setiap unsur dalam senyawa.
Mr H₂SO₄ = (2 × Ar H) + Ar S + (4 × Ar O)
Mr H₂SO₄ = (2 × 1 g/mol) + 32 g/mol + (4 × 16 g/mol)
Mr H₂SO₄ = 2 g/mol + 32 g/mol + 64 g/mol
Mr H₂SO₄ = 98 g/mol
c. Menentukan pereaksi pembatas:
Pertama, hitung jumlah mol masing-masing reaktan.
Jumlah mol Mg = massa Mg / Ar Mg = 12 g / 24 g/mol = 0,5 mol
Jumlah mol H₂SO₄ = massa H₂SO₄ / Mr H₂SO₄ = 98 g / 98 g/mol = 1 mol
Perbandingan stoikiometri antara Mg dan H₂SO₄ dalam reaksi adalah 1:1.
Untuk menentukan pereaksi pembatas, kita bandingkan perbandingan mol yang ada dengan perbandingan stoikiometri.
- Jika Mg adalah pereaksi pembatas, maka dibutuhkan 0,5 mol H₂SO₄ (karena perbandingan 1:1). Kita memiliki 1 mol H₂SO₄, yang lebih dari cukup.
- Jika H₂SO₄ adalah pereaksi pembatas, maka dibutuhkan 1 mol Mg (karena perbandingan 1:1). Kita hanya memiliki 0,5 mol Mg, yang tidak cukup.
Oleh karena itu, magnesium (Mg) adalah pereaksi pembatas.
d. Massa MgSO₄ yang dihasilkan:
Jumlah MgSO₄ yang dihasilkan ditentukan oleh pereaksi pembatas, yaitu Mg.
Dari persamaan reaksi setara, perbandingan mol Mg dengan MgSO₄ adalah 1:1.
Jika 0,5 mol Mg bereaksi, maka akan dihasilkan 0,5 mol MgSO₄.
Jumlah mol MgSO₄ = 0,5 mol
Untuk menghitung massa MgSO₄, kita perlu Mr MgSO₄.
Mr MgSO₄ = Ar Mg + Ar S + (4 × Ar O)
Mr MgSO₄ = 24 g/mol + 32 g/mol + (4 × 16 g/mol)
Mr MgSO₄ = 24 g/mol + 32 g/mol + 64 g/mol
Mr MgSO₄ = 120 g/mol
Massa MgSO₄ = jumlah mol MgSO₄ × Mr MgSO₄
Massa MgSO₄ = 0,5 mol × 120 g/mol = 60 gram
Bagian 2: Laju Reaksi
Laju reaksi adalah perubahan konsentrasi reaktan atau produk per satuan waktu. Faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi meliputi konsentrasi reaktan, luas permukaan sentuh, suhu, dan katalis.
Contoh Soal 2.1:
Dalam suatu percobaan, laju reaksi antara zat A dan zat B untuk membentuk produk C diamati. Data eksperimen diberikan sebagai berikut:
| Percobaan | (M) | (M) | Laju Awal (M/s) |
|---|---|---|---|
| 1 | 0,1 | 0,1 | 2,0 |
| 2 | 0,2 | 0,1 | 4,0 |
| 3 | 0,1 | 0,2 | 8,0 |
a. Tentukan orde reaksi terhadap A dan B!
b. Tentukan persamaan laju reaksi!
c. Berapakah konstanta laju reaksi (k)?
d. Berapakah laju awal reaksi jika = 0,3 M dan = 0,2 M?
Pembahasan Soal 2.1:
a. Menentukan orde reaksi terhadap A dan B:
Persamaan laju reaksi umum adalah: Laju = k ˣ ʸ
di mana x adalah orde reaksi terhadap A, dan y adalah orde reaksi terhadap B.
-
Orde reaksi terhadap A (x):
Bandingkan Percobaan 1 dan 2, di mana tetap dan berubah.
Laju₂ / Laju₁ = (k ₂ˣ ₂ʸ) / (k ₁ˣ ₁ʸ)
4,0 / 2,0 = (0,2ˣ × 0,1ʸ) / (0,1ˣ × 0,1ʸ)
2 = (0,2 / 0,1)ˣ
2 = 2ˣ
Maka, x = 1. Orde reaksi terhadap A adalah 1. -
Orde reaksi terhadap B (y):
Bandingkan Percobaan 1 dan 3, di mana tetap dan berubah.
Laju₃ / Laju₁ = (k ₃ˣ ₃ʸ) / (k ₁ˣ ₁ʸ)
8,0 / 2,0 = (0,1ˣ × 0,2ʸ) / (0,1ˣ × 0,1ʸ)
4 = (0,2 / 0,1)ʸ
4 = 2ʸ
Maka, y = 2. Orde reaksi terhadap B adalah 2.
b. Persamaan laju reaksi:
Dengan x = 1 dan y = 2, persamaan laju reaksinya adalah:
Laju = k ¹ ² atau Laju = k ²
c. Menentukan konstanta laju reaksi (k):
Gunakan data dari salah satu percobaan, misalnya Percobaan 1.
Laju = k ²
2,0 M/s = k (0,1 M) (0,1 M)²
2,0 M/s = k (0,1 M) (0,01 M²)
2,0 M/s = k (0,001 M³)
k = 2,0 M/s / 0,001 M³
k = 2000 M⁻²s⁻¹
d. Laju awal reaksi jika = 0,3 M dan = 0,2 M:
Gunakan persamaan laju dan nilai k yang telah ditemukan.
Laju = k ²
Laju = 2000 M⁻²s⁻¹ × (0,3 M) × (0,2 M)²
Laju = 2000 M⁻²s⁻¹ × (0,3 M) × (0,04 M²)
Laju = 2000 M⁻²s⁻¹ × 0,012 M³
Laju = 24 M/s
Contoh Soal 2.2:
Teori tumbukan menjelaskan bahwa agar reaksi terjadi, partikel-partikel reaktan harus bertumbukan dengan energi yang cukup dan orientasi yang tepat. Jelaskan bagaimana pengaruh peningkatan suhu terhadap laju reaksi berdasarkan teori tumbukan!
Pembahasan Soal 2.2:
Peningkatan suhu memiliki dua pengaruh utama terhadap laju reaksi berdasarkan teori tumbukan:
-
Peningkatan Frekuensi Tumbukan: Ketika suhu dinaikkan, energi kinetik rata-rata partikel reaktan meningkat. Partikel-partikel bergerak lebih cepat dan lebih sering bertumbukan satu sama lain. Peningkatan frekuensi tumbukan ini secara langsung meningkatkan kemungkinan terjadinya tumbukan yang efektif.
-
Peningkatan Fraksi Partikel yang Memiliki Energi Aktivasi: Teori tumbukan menyatakan bahwa reaksi hanya akan terjadi jika tumbukan yang terjadi memiliki energi yang cukup untuk mengatasi energi aktivasi (Ea). Energi aktivasi adalah energi minimum yang diperlukan untuk memulai reaksi. Ketika suhu dinaikkan, distribusi energi partikel bergeser ke arah energi yang lebih tinggi. Akibatnya, lebih banyak partikel yang memiliki energi sama dengan atau lebih besar dari energi aktivasi. Ini berarti fraksi partikel yang mampu bereaksi saat bertumbukan meningkat secara signifikan.
Secara keseluruhan, peningkatan suhu menyebabkan baik jumlah tumbukan yang terjadi maupun proporsi tumbukan yang efektif (yaitu, tumbukan yang menghasilkan reaksi) meningkat. Kedua faktor ini berkontribusi pada percepatan laju reaksi.
Bagian 3: Kesetimbangan Kimia
Kesetimbangan kimia adalah keadaan dinamis di mana laju reaksi maju sama dengan laju reaksi balik, sehingga konsentrasi reaktan dan produk tetap konstan. Konsep yang terkait meliputi tetapan kesetimbangan (Kc dan Kp) dan pergeseran kesetimbangan (prinsip Le Chatelier).
Contoh Soal 3.1:
Dalam suatu wadah tertutup, terjadi reaksi kesetimbangan:
N₂(g) + 3H₂(g) ⇌ 2NH₃(g)
Pada suhu tertentu, diketahui harga tetapan kesetimbangan Kc = 0,5. Jika pada keadaan setimbang terdapat 0,2 mol N₂, 0,3 mol H₂, dan 0,4 mol NH₃ dalam wadah bervolume 2 liter.
a. Hitunglah konsentrasi molar masing-masing zat pada keadaan setimbang!
b. Tentukan apakah pernyataan tetapan kesetimbangan Kc = 0,5 benar berdasarkan data tersebut!
c. Jika konsentrasi NH₃ dinaikkan dua kali lipat, ke arah mana kesetimbangan akan bergeser? Jelaskan!
Pembahasan Soal 3.1:
a. Menghitung konsentrasi molar masing-masing zat pada keadaan setimbang:
Volume wadah = 2 liter.
Konsentrasi N₂ = jumlah mol N₂ / volume = 0,2 mol / 2 L = 0,1 M
Konsentrasi H₂ = jumlah mol H₂ / volume = 0,3 mol / 2 L = 0,15 M
Konsentrasi NH₃ = jumlah mol NH₃ / volume = 0,4 mol / 2 L = 0,2 M
Jadi, konsentrasi pada keadaan setimbang adalah:
= 0,1 M
= 0,15 M
= 0,2 M
b. Menentukan apakah pernyataan tetapan kesetimbangan Kc = 0,5 benar:
Rumus Kc untuk reaksi N₂(g) + 3H₂(g) ⇌ 2NH₃(g) adalah:
Kc = ² / ( ³)
Masukkan konsentrasi yang telah dihitung:
Kc = (0,2 M)² / (0,1 M × (0,15 M)³)
Kc = (0,04 M²) / (0,1 M × 0,003375 M³)
Kc = (0,04 M²) / (0,0003375 M⁴)
Kc ≈ 118,5 M⁻²
Nilai Kc yang dihitung (≈ 118,5 M⁻²) tidak sama dengan nilai Kc yang diberikan (0,5). Oleh karena itu, pernyataan tetapan kesetimbangan Kc = 0,5 tidak benar berdasarkan data tersebut. (Kemungkinan ada kesalahan pada soal atau data yang diberikan).
c. Pergeseran kesetimbangan jika konsentrasi NH₃ dinaikkan:
Reaksi: N₂(g) + 3H₂(g) ⇌ 2NH₃(g)
Menurut prinsip Le Chatelier, jika suatu sistem kesetimbangan mengalami perubahan konsentrasi, suhu, atau tekanan, sistem akan bergeser sedemikian rupa untuk melawan perubahan tersebut.
Jika konsentrasi NH₃ (produk) dinaikkan, sistem akan berusaha mengurangi kelebihan NH₃ tersebut. Untuk mengurangi konsentrasi NH₃, kesetimbangan akan bergeser ke arah yang mengkonsumsi NH₃, yaitu ke arah reaksi balik.
Jadi, kesetimbangan akan bergeser ke kiri, yaitu menuju pembentukan N₂ dan H₂.
Contoh Soal 3.2:
Untuk reaksi kesetimbangan gas PCl₅(g) ⇌ PCl₃(g) + Cl₂(g), diketahui Kp pada suhu tertentu adalah 0,1 atm. Jika tekanan parsial PCl₅ pada keadaan setimbang adalah 2 atm, hitunglah tekanan parsial PCl₃ dan Cl₂ pada keadaan setimbang!
Pembahasan Soal 3.2:
Reaksi kesetimbangan: PCl₅(g) ⇌ PCl₃(g) + Cl₂(g)
Tetapan kesetimbangan dalam bentuk tekanan parsial (Kp) adalah:
Kp = (P_PCl₃ × P_Cl₂) / P_PCl₅
Diketahui:
Kp = 0,1 atm
P_PCl₅ = 2 atm
Misalkan tekanan parsial PCl₃ = x atm dan tekanan parsial Cl₂ = y atm.
Dari stoikiometri reaksi, perbandingan PCl₃ dan Cl₂ adalah 1:1, sehingga jika PCl₃ = x atm, maka P_Cl₂ = x atm.
Masukkan nilai-nilai ke dalam rumus Kp:
0,1 atm = (x atm × x atm) / 2 atm
0,1 atm = x² atm² / 2 atm
Kalikan kedua sisi dengan 2 atm:
0,1 atm × 2 atm = x² atm²
0,2 atm² = x² atm²
Ambil akar kuadrat dari kedua sisi:
x = √0,2 atm
x ≈ 0,447 atm
Jadi, tekanan parsial PCl₃ dan Cl₂ pada keadaan setimbang adalah:
P_PCl₃ = 0,447 atm
P_Cl₂ = 0,447 atm
Bagian 4: Termokimia
Termokimia adalah cabang kimia yang mempelajari perubahan energi yang menyertai reaksi kimia. Konsep-konsep penting meliputi entalpi reaksi (ΔH), entalpi pembentukan, entalpi penguraian, dan hukum Hess.
Contoh Soal 4.1:
Diketahui entalpi pembentukan standar (ΔH°f) untuk senyawa-senyawa berikut:
- ΔH°f CO₂(g) = -393,5 kJ/mol
- ΔH°f H₂O(l) = -285,8 kJ/mol
- ΔH°f CH₄(g) = -74,8 kJ/mol
Hitunglah perubahan entalpi (ΔH°r) untuk reaksi pembakaran metana (CH₄) berikut:
CH₄(g) + 2O₂(g) → CO₂(g) + 2H₂O(l)
Pembahasan Soal 4.1:
Perubahan entalpi reaksi standar (ΔH°r) dapat dihitung menggunakan entalpi pembentukan standar dari produk dan reaktan dengan rumus:
ΔH°r = Σ ΔH°f (produk) – Σ ΔH°f (reaktan)
Reaksi yang diberikan: CH₄(g) + 2O₂(g) → CO₂(g) + 2H₂O(l)
-
Entalpi pembentukan produk:
- Untuk CO₂(g): ΔH°f = -393,5 kJ/mol
- Untuk 2H₂O(l): 2 × ΔH°f (H₂O(l)) = 2 × (-285,8 kJ/mol) = -571,6 kJ/mol
- Σ ΔH°f (produk) = -393,5 kJ/mol + (-571,6 kJ/mol) = -965,1 kJ/mol
-
Entalpi pembentukan reaktan:
- Untuk CH₄(g): ΔH°f = -74,8 kJ/mol
- Untuk 2O₂(g): Oksigen (O₂) adalah unsur bebas dalam keadaan standar, sehingga ΔH°f-nya adalah 0 kJ/mol. Jadi, 2 × ΔH°f (O₂(g)) = 2 × 0 kJ/mol = 0 kJ/mol.
- Σ ΔH°f (reaktan) = -74,8 kJ/mol + 0 kJ/mol = -74,8 kJ/mol
Sekarang, hitung ΔH°r:
ΔH°r = Σ ΔH°f (produk) – Σ ΔH°f (reaktan)
ΔH°r = (-965,1 kJ/mol) – (-74,8 kJ/mol)
ΔH°r = -965,1 kJ/mol + 74,8 kJ/mol
ΔH°r = -890,3 kJ/mol
Reaksi pembakaran metana bersifat eksotermik karena nilai ΔH°r negatif.
Contoh Soal 4.2:
Diketahui data entalpi reaksi berikut:
- C(s) + O₂(g) → CO₂(g) ΔH = -393,5 kJ
- CO(g) + ½ O₂(g) → CO₂(g) ΔH = -283,0 kJ
Hitunglah perubahan entalpi untuk reaksi pembentukan karbon monoksida (CO) dari karbon padat (C) dan oksigen (O₂)!
C(s) + ½ O₂(g) → CO(g) ΔH = ?
Pembahasan Soal 4.2:
Kita akan menggunakan hukum Hess, yang menyatakan bahwa perubahan entalpi total untuk suatu reaksi adalah sama, terlepas dari apakah reaksi itu terjadi dalam satu langkah atau beberapa langkah.
Tujuan kita adalah mendapatkan reaksi: C(s) + ½ O₂(g) → CO(g)
Mari kita manipulasi reaksi yang diketahui:
-
Reaksi 1: C(s) + O₂(g) → CO₂(g) ΔH₁ = -393,5 kJ
Reaksi ini sudah memiliki C(s) di sisi reaktan, tetapi memiliki O₂(g) 1 mol dan CO₂(g) di sisi produk. -
Reaksi 2: CO(g) + ½ O₂(g) → CO₂(g) ΔH₂ = -283,0 kJ
Untuk mendapatkan CO(g) di sisi produk, kita perlu membalik reaksi 2. Ketika reaksi dibalik, tanda ΔH juga berubah.Reaksi 2 dibalik: CO₂(g) → CO(g) + ½ O₂(g) ΔH₂’ = +283,0 kJ
Sekarang, mari kita jumlahkan Reaksi 1 dan Reaksi 2 yang dibalik:
C(s) + O₂(g) → CO₂(g) ΔH₁ = -393,5 kJ
CO₂(g) → CO(g) + ½ O₂(g) ΔH₂’ = +283,0 kJ
C(s) + O₂(g) + CO₂(g) → CO₂(g) + CO(g) + ½ O₂(g)
Kita dapat membatalkan spesies yang sama di kedua sisi:
CO₂(g) di sisi kiri dan kanan akan saling menghilangkan.
O₂(g) di sisi kiri (1 mol) dan ½ O₂(g) di sisi kanan akan menghasilkan ½ O₂(g) di sisi kiri.
Reaksi yang tersisa setelah pembatalan:
C(s) + ½ O₂(g) → CO(g)
Perubahan entalpi untuk reaksi ini adalah jumlah dari entalpi reaksi yang dimanipulasi:
ΔH = ΔH₁ + ΔH₂’
ΔH = -393,5 kJ + 283,0 kJ
ΔH = -110,5 kJ
Jadi, perubahan entalpi untuk reaksi pembentukan karbon monoksida adalah -110,5 kJ. Reaksi ini bersifat eksotermik.
Kesimpulan
Artikel ini telah menyajikan berbagai contoh soal ulangan kimia kelas 11 semester 1 yang mencakup topik stoikiometri, laju reaksi, kesetimbangan kimia, dan termokimia. Pembahasan rinci untuk setiap soal diharapkan dapat membantu siswa dalam memahami konsep-konsep kunci dan strategi penyelesaian masalah. Latihan soal yang konsisten dan pemahaman mendalam terhadap teori di balik setiap topik akan menjadi kunci keberhasilan dalam menghadapi ulangan kimia.